123
Dulu, saat telepon genggam belum secanggih sekarang, ada banyak cara sederhana untuk mengatakan rindu. Salah satunya lewat kode pager. Angka-angka yang tampak biasa itu ternyata menyimpan pesan yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu. Dan di antara banyak kode yang pernah beredar, ada satu yang masih sering dikenang sampai sekarang, 123. Bagi sebagian orang, angka itu bukan sekadar urutan bilangan. Ia adalah cara paling sederhana untuk berkata, "Aku kangen."
Mungkin terdengar lucu jika mengingatnya hari ini. Hanya tiga angka, tanpa kalimat panjang, tanpa emoji, tanpa panggilan video. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Seseorang cukup mengirim 123, lalu orang di seberang sana sudah tahu bahwa ada hati yang sedang mengingatnya. Tidak banyak kata, tetapi pesannya sampai. Tidak ramai, tetapi mampu membuat seseorang tersenyum sepanjang hari.
Sekarang, mengirim pesan sudah semudah menggerakkan jari. Kita bisa menulis apa saja, kapan saja, kepada siapa saja. Anehnya, di tengah kemudahan itu, mengungkapkan rindu justru terasa semakin sulit. Mungkin karena rindu tidak pernah bergantung pada panjangnya kalimat. Ia selalu menemukan jalannya sendiri, bahkan hanya melalui tiga angka yang sederhana.
Kalau suatu hari nanti aku mengirimkan 123 kepadamu, jangan buru-buru mencari arti lain. Anggap saja itu caraku mengingatmu, tanpa ingin mengganggu harimu. Sebuah sapaan kecil yang tidak meminta balasan apa pun. Hanya ingin memastikan bahwa, di antara begitu banyak kesibukan yang kita jalani, masih ada seseorang yang diam-diam menyebut namamu dengan rindu yang sederhana.