Bahan bakarku dari Kaca
βAku adalah rumah dengan dua langit,
Kadang terik membakar tanpa jeda,
Terbang terlalu tinggi menembus mega,
Merasa sanggup menggenggam semesta.
βNamun dalam sekejap, langit berubah kelabu,
Jatuh tersungkur ke dasar jurang yang bisu.
Gelapnya menghimpit, heningnya membelenggu,
Menatap tablet-tablet kecil di telapak tangan dengan tatap ragu.
βJangan pernah biarkan pil-pil itu,
Menjadi bahan bakar utama untuk langkahmu.
Sebab menyalakan hidup dari kimia yang semu,
Hanya menunda badai yang kelak kembali menerjangmu.
βDan jaga jiwamu, tapi ingatlah batasmu,
Tak perlu menjadi terlalu baik hingga menghancurkan dirimu.
Berhenti mengiyakan tiap pinta yang meremukkan,
Hanya demi memberi makan ego orang yang tak pernah puas dikenyangkan.
βCukup aku yang meniti garis rapuh ini,
Bergantung pada penenang agar esok tetap ada.
Jangan sampai engkau sampai di titik ini,
Menukar tenang yang asli dengan damai yang dipaksa.
βJaga jiwamu tetap bernapas secara utuh,
Cari nyala dari dalam, bukan dari zat yang melumpuh. Aku sadar setiap orang pasti akan mengusahakan hidupnya dan aku mrngusahakan hidup dengan tetap merasa menghilang bukan akhir dari segala penyelesaiaan.