Butir pemotong rasa sakit
Di antara toples-toples kaca kecil ini,
aku meminum pahitnya butiran pemotong rasa sakit.
Obat anti-depresan ini menjadi kawan bisu,
memaksa jiwaku yang hancur bertekut untuk bilang:
βSemua akan baik-baik saja.β
βTak terasa, hampir sebelas tahun lamanya.
Sebelas tahun cerita hidup terus berjalan tanpa hadirmu.
Ada tahun-tahun di mana aku sempat belajar berdiri tegak,
berpura-pura bahwa aku sudah sanggup melangkah sendiri.
βNamun tahun ini... entah mengapa, runtuh itu kembali.
Rasanya begitu berat, begitu menyiksa.
Dinding pertahananku rubuh tanpa sebab yang pasti,
dan aku terlempar kembali pada rasa sakit yang sama.
Aku terpaksa merengkuh kembali butir-butir obat itu,
hanya untuk bertahan melewati hari yang meremukkan dada.
βAku tak bisa lagi berbohong pada diri sendiri.
Aku tidak sedang baik-baik saja.
Dunia terasa terlampau asing, pekat, dan lelah,
hingga ingatan untuk menghilang kembali memanggil-manggil.
Di tengah riuh rendah kegelapan ini,
aku hanya merindukan hadirmu.
Aku butuh hangat pelukmu yang menenangkan,
dan bisikan wejanganmu yang selalu menjadi petunjuk arah.
Datanglah meski hanya dalam mimpi,
sebab jiwaku yang letih ini teramat sangat membutuhkanmu.