Cinta, ya?
Pagi-pagi sudah disuguhi kalimat yang lumayan menampar: βJika engkau ingin cinta, kau harus siap untuk kehilangan dirimu. Cinta bukanlah tentang memiliki, tapi tentang memberi segalanya tanpa takut kehilangan. β Jalaluddin Rumi.β Belum juga benar-benar sadar dari tidur, sudah diajak bercermin soal cinta dan kehilangan. Terima kasih, pagi, ternyata kopi saja tidak cukup pahit.
Tapi semakin kupikirkan, ada benarnya juga. Selama ini kita sering mengira mencintai berarti menggenggam seseorang seerat mungkin agar tidak pergi. Padahal mungkin cinta justru mengajarkan sebaliknya: memberi ruang, memberi kebebasan, dan menerima bahwa seseorang tetap punya jalan hidupnya sendiri. Kita boleh mencintai dengan begitu dalam, tetapi tidak pernah benar-benar punya kuasa untuk menentukan bagaimana seseorang harus tinggal.
Dan mungkin bagian paling sulit dari mencintai adalah ketika kita sudah memberikan banyak hal, lalu harus menerima kemungkinan bahwa semua itu tidak menjamin seseorang akan memilih kita. Di situlah ego diuji. Apakah kita masih mampu mencintai tanpa menjadikan cinta sebagai transaksi? Apakah kita masih mampu mendoakan seseorang ketika pada akhirnya kebahagiaannya mungkin tidak lagi melibatkan kita?
Tapi aku juga mulai paham, kehilangan diri sendiri bukan berarti harus menghapus seluruh batas dan mengorbankan kewarasan demi seseorang. Ada perbedaan antara memberi dengan tulus dan kehilangan diri karena terlalu takut kehilangan. Cinta seharusnya membuat kita lebih manusiawi, bukan membuat kita lupa bahwa diri sendiri juga layak dijaga.
Jadi pagi ini, mungkin kalimat itu tidak sekadar bicara tentang mencintai seseorang. Ia sedang mengingatkanku bahwa cinta punya dua pekerjaan: belajar memberi dan belajar melepaskan. Dan kalau suatu hari aku harus kehilangan sesuatu yang sangat kucintai, semoga aku tidak kehilangan diriku sendiri bersamanya. Sebab mencintai dengan seluruh hati seharusnya tidak berarti meninggalkan hati sendiri.