HAHA π€£
Aku pernah membaca sebuah kutipan yang bunyinya kira-kira seperti ini:
"Dua orang yang sama-sama cerdas tidak akan jatuh cinta; cinta sejati membutuhkan satu orang yang bersedia menjadi bodoh."
β sering dikaitkan dengan Fyodor Dostoevsky
Entah benar atau tidak asal kutipannya, tapi kalimat itu pernah membuatku berhenti sejenak. Aku memikirkannya cukup lama. Mungkin yang dimaksud "menjadi bodoh" bukan kehilangan akal sehat, melainkan bersedia mengesampingkan ego, logika, dan keinginan untuk selalu menang. Sebab, kalau semuanya selalu dihitung dengan rumus untung-rugi, mungkin cinta tidak akan pernah benar-benar tumbuh.
Dan sepertinya... di ceritaku, akulah orang itu. Yang berkali-kali memilih memahami daripada dipahami. Yang lebih sering memaklumi daripada menuntut. Yang tetap bertahan meski berkali-kali tahu jawabannya mungkin tidak akan berubah. Lucunya, aku sadar sedang melakukan hal yang mungkin tidak masuk akal, tetapi tetap saja melakukannya. Mungkin beginilah rasanya ketika hati sesekali berhasil mengalahkan kepala.
Sekarang aku mulai percaya, menjadi "bodoh" dalam mencintai bukan berarti kehilangan harga diri. Itu hanya berarti pernah mencintai seseorang dengan tulus, sampai-sampai kita rela melakukan hal-hal yang, jika dipikirkan belakangan, membuat kita tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan mengenangnya bukan sebagai penyesalan, melainkan sebagai bukti bahwa kita pernah mencintai dengan sungguh-sungguh.
Kalau dipikir-pikir lagi, untung saja hati tidak punya fitur "Undo". Soalnya kalau ada, mungkin setiap lima menit aku sudah pencet tombolnya... lalu beberapa menit kemudian malah klik "Redo" lagi. π