ikhlas dan rindu
Orang bilang ikhlas memang tidak pernah datang dalam semalam. Ia tumbuh pelan, mengikuti waktu yang mengajarkan hati untuk menerima apa yang tidak lagi bisa dipertahankan. Ada hari ketika semuanya terasa lebih ringan, ada juga hari ketika kenangan kembali datang dan membuat hati terasa sesak. Mungkin begitulah cara ikhlas bekerja, tidak selalu lurus, tetapi perlahan membawa kita menuju tenang.
Yang sering kali tidak bisa ditebak justru rindu. Ia datang tanpa permisi, tidak peduli seberapa sibuk kita menjalani hari. Kadang muncul saat melihat langit sore, mendengar lagu yang pernah didengarkan bersama, atau ketika tanpa sengaja mengingat hal-hal kecil yang dulu terasa biasa. Semakin berusaha mengabaikannya, terkadang justru semakin terasa nyata.
Mungkin memang seperti itu bedanya ikhlas dan rindu. Ikhlas membutuhkan waktu untuk bertumbuh, sedangkan rindu tidak pernah menunggu waktu untuk datang. Namun perlahan aku belajar, keduanya bisa hidup berdampingan. Aku bisa menerima bahwa kita tidak lagi berjalan di jalan yang sama, sambil tetap mengakui bahwa sesekali, hatiku masih diam-diam mencarimu di antara kenangan yang belum sepenuhnya pudar.