kita bukan Tuhan
Dasar wanita. Senang sekali kalau ada tausiah yang membahas suami harus begini, harus begitu, harus a i u e o. Semua dianggukkan dengan penuh keyakinan, seolah setiap nasihat memang sudah seharusnya diarahkan kepada suami.
Tapi begitu pembahasannya mulai bergeser kepada istri, mendadak fokus berpindah. Ada yang langsung skip, ada yang mulai merasa tidak nyaman, bahkan mungkin dalam hati berkata, βItu kan tergantung kondisinya.β Lucu juga, ternyata nasihat akan terasa begitu indah selama bukan kita yang sedang diminta untuk bercermin.
Padahal kalau memang ingin bicara tentang rumah tangga, bukankah seharusnya nasihat berlaku untuk dua arah? Suami punya kewajiban, istri juga punya tanggung jawab. Tidak ada yang selalu benar hanya karena berada di posisi tertentu. Kalau ingin menuntut pasangan menjadi lebih baik, rasanya adil juga kalau sesekali kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita melakukan bagian kita?
Jadi, apakah itu adil? Tidak, pastinya. Sebab manusia memang punya kecenderungan memilih nasihat yang paling nyaman untuk dirinya. Tapi untungnya, ukuran keadilan tidak pernah sepenuhnya berada di tangan manusia. Yang benar-benar adil hanya Tuhan, karena Dia tahu apa yang kita lakukan, apa yang kita sembunyikan, dan apa yang sebenarnya ada di dalam hati kita.