kosakata baru
Belakangan ini, karena beberapa hari berturut-turut aku baru sampai rumah setelah Maghrib, ada kebiasaan baru yang muncul dari si adek. Setiap pintu kebuka, dia langsung teriak penuh semangat, "Hai, bapakku pucet!" disusul, "Hore... bapakku pucet sudah pulang!" π€£
Belum sempat aku naruh tas, si kakak langsung protes dari dalam rumah. "Adek, jangan bilang begitu. Bapak nggak pucet. Aku nggak suka adek ngomong kayak gitu." Akhirnya aku penasaran juga. Kusamperin si adek sambil nahan ketawa. "Memangnya kenapa kok adek bilang bapak pucet?" Dengan polosnya dia jawab, "Kata Om Ryo, bapak pulangnya selalu sore... pasti pucet."
Lho... logikanya dari mana coba? π Aku cuma bisa bilang, "Tapi bapak kan nggak pucet, Dek." Belum selesai ngobrol, si kakak kembali menyahut dari dalam kamar, seolah sedang membela nama baik bapaknya. "Pokoknya bapakku nggak pucet!" Suaranya mantap, penuh keyakinan. Rasanya seperti sedang sidang pembelaan dengan saksi utama adalah anak sendiri.
Dari dapur, mama ikut nimbrung sambil tertawa. "Dek, bapak itu nggak pucet. Bapak sehat seperti biasanya, tanpa kurang satu apa pun." Hening sebentar... lalu entah siapa yang mulai duluan, tiba-tiba satu rumah pecah jadi tawa. Si adek ikut ketawa meski mungkin belum benar-benar paham kenapa semua orang menertawakannya.
Begitulah anak-anak. Kadang satu kalimat polos mereka bisa mengubah rumah yang tadinya biasa saja jadi penuh gelak tawa. Tapi mulai besok sepertinya aku harus klarifikasi ke Om Ryo dulu... ini beliau ngajarin kosakata baru atau lagi bikin reputasiku di rumah jadi Bapak Pucetβ’? π€£