Ku butuh pahit yg lain
Ada hari-hari di mana cangkir kopi yang biasanya dipuja mendadak kehilangan sihirnya. Uapnya yang mengepul tak lagi sanggup memancing selera, dan pahitnya yang cair terasa terlalu tergesa-gesa menyapa lidah. Hari ini, mataku sepenuhnya berpaling dari warna seduhan yang biasa; ada kelelahan yang tak bisa disembuhkan oleh tegukan kafein yang cair, dan ada dahaga akan jenis kepahitan yang jauh lebih tenang.
βHari ini aku hanya ingin tersesat dalam sebongkah cokelat pekatβhitam, padat, dan jujur tanpa topeng pemanis. Kepahitan murni yang lahir dari biji kakao tua, menyimpan rahasia tanah, hujan, dan waktu yang panjang. Aku ingin membiarkannya mendarat perlahan di atas lidah, tidak untuk langsung ditelan habis, melainkan untuk dieja dan dinikmati setiap lelehan pelannya.
βBiarkan rasa pahit yang pekat itu menguasai rongga mulut, merayap dingin namun menghangatkan, mengendap lama sebelum akhirnya menyisakan jejak gurih dan manis yang amat samar di pangkal tenggorokan. Bukan pekatnya kopi yang kucari untuk menemani hari ini, melainkan kepahitan dalam sebongkah cokelat hitam yang tahu betul cara merawat sunyi dengan tenang.