menjadi laki-laki ya?
Kalau dipikir-pikir kembali, jalan hidup sebagai seorang laki-laki itu sebenarnya sederhana, tapi ya, memang harus diakui agak berat. Sejak pertama kali membuka mata di dunia, seolah-olah sudah ada cetak biru tidak tertulis bahwa hidup kita ini akan berputar di seputar tanggung jawab yang tidak ada habisnya. Lahir, tumbuh besar, lalu langsung dihadapkan pada keharusan untuk bekerja keras tanpa banyak alasan sampai hari tua nanti. Kita seperti dituntut untuk menjadi tiang yang tidak boleh goyang, apa pun badai yang datang menghantam. Kadang terasa melelahkan, jujur saja, tapi ya mau bagaimana lagi? Ini adalah jalan yang sudah digariskan, dan kita coba jalani saja dengan kepala tegak, pelan-pelan, tanpa perlu banyak mengeluh kepada dunia.
Rutinitas harian akhirnya berubah menjadi teman paling setia dalam kesunyian. Bangun pagi, memikirkan apa yang harus diselesaikan hari ini, dan memastikan semua orang yang bergantung pada pundak kita bisa tidur dengan tenang nanti malam. Tugas untuk terus bekerja dan menghidupi itu rasanya sudah melekat, menyatu di dalam aliran darah. Memang tidak ada yang pernah menjanjikan kalau perjalanan ini akan mudah, dan sering kali fisik serta mental rasanya sudah berada di titik nadir. Namun, di tengah semua kelelahan yang menumpuk itu, entah bagaimana selalu ada sisa tenaga yang muncul. Kita belajar untuk menikmati kopi yang pahit, menyalami tekanan yang datang bertubi-tubi, dan menganggapnya sebagai bagian dari komitmen yang memang harus diselesaikan secara jantan.
Menariknya, di sepanjang garis waktu yang melelahkan ini, dunia jarang sekali menyisakan ruang untuk hal-hal yang lembut bagi kita. Laki-laki jarang dipuji untuk hal-hal kecil, hampir tidak pernah ditanya bagaimana hatinya hari ini, dan sangat asing dengan apresiasi yang manis. Kita terbiasa memberi, menyediakan, dan melindungi, sampai terkadang lupa rasanya menerima sebuah pelukan yang tulus tanpa tuntutan. Kita terlalu sibuk bertarung di garis depan untuk memastikan dapur tetap mengepul, hingga lupa bagaimana caranya menikmati keindahan di sekitar. Tapi tidak apa-apa, kita tidak pernah menuntut dunia untuk berubah romantis. Ketangguhan kita justru tumbuh subur dari sanaβdari ruang-ruang sepi yang kita hadapi sendirian dengan senyuman tipis.
Lalu pada akhirnya, kita semua tahu ke mana semua keletihan ini akan bermuara. Akhir dari segala tugas wajib ini adalah sebuah peristirahatan yang benar-benar tenang, ketika raga sudah selesai menunaikan semua kewajibannya di dunia. Ada sedikit rasa ironi yang menggelitik saat menyadari bahwa kelembutan pertama yang benar-benar dipersembahkan khusus untuk kita baru akan datang ketika kita sudah tidak lagi bisa merasakannya. Di atas gundukan tanah makam itulah, bunga pertama yang kita miliki akan diletakkan. Sebuah simbol apresiasi yang terlambat, namun menjadi tanda sah bahwa perjuangan kita telah usai dan kita telah lulus melewati ujian hidup yang panjang ini.
Jadi, selagi hari ini kita masih bernapas dan masih punya daftar pekerjaan yang belum selesai, mari kita hadapi semuanya dengan santai saja. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa, dan tidak perlu juga merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Tugas kita memang beratβlahir, bekerja, lalu matiβtapi di dalam keharusan yang kaku itu, ada kehormatan besar yang sedang kita jaga baik-baik. Tarik napas dalam-dalam, embuskan perlahan, lalu melangkah lagi. Kita akan terus berjalan dengan cara kita sendiri, tetap kuat sampai garis akhir tiba, dan biarkan bunga-bunga itu menunggu waktu mereka sendiri untuk menyambut kepulangan kita dengan terhormat.