Muara belajar mengalir
Tidak pernah ada dua aliran air yang lahir dari gunung yang sama. Masing-masing membawa warna tanah yang berbeda, melewati lekuk batuan yang tak serupa, dan dibentuk oleh cuaca serta musim yang telah berlalu. Ada yang tumbuh dari dinginnya lelehan es di puncak yang tinggi, dan ada yang terbentuk dari hangatnya mata air di dalam ketenangan hutan.
βKetika perjalanan membawa keduanya pada satu titik pertemuan, wajar jika airnya sempat berguncang dan keruh sejenak. Ada ketakutan yang halus bahwa warna yang satu akan melenyapkan keaslian yang lain. Ada rasa lelah ketika menyadari bahwa cara mereka mengalir tidak pernah benar-benar sama.
βNamun, dua aliran tidak pernah dipertemukan untuk saling mengubah asal-usulnya. Mereka tidak sedang diminta untuk melupakan batu-batu yang pernah membentuk keberanian mereka di masa lalu. Pertemuan itu hadir bukan untuk membuktikan arus mana yang paling deras atau cara mengalir mana yang paling benar, melainkan untuk meluaskan ruang perjalanan yang sedang ditempuh.
βPerbedaan warna tanah yang dibawa dari masa lalu bukanlah tanda bahwa mereka tak ditakdirkan mengalir bersama. Sebab di tempat di mana dua arus belajar bergerak searah, air tidak pernah kehilangan jati dirinya ia justru menemukan kedalaman yang baru. Kedalaman yang tidak akan pernah bisa dicapai jika ia hanya memilih mengalir sendirian.
βMungkin kedewasaan sebuah perjalanan bukan terletak pada keberanian untuk berhenti dan berbalik arah saat alirannya terasa berbeda. Melainkan pada kesabaran untuk terus mengalir bersisian, mempercayai bahwa setiap warna tanah memiliki perannya sendiri untuk memberi kehidupan pada tepian yang mereka lalui.
βSebab muara yang paling luas dan tenang tidak pernah dibentuk oleh air yang serupa, melainkan oleh dua keberanian yang memilih untuk tidak saling memisahkan diri hingga tiba di lautan lepas.