Penerimaan yg tertatih
Kini sebuah nama baru disematkan pada jiwaku,
vokalnya asing, namun dampaknya begitu nyata: bipolar.
Sebuah riak gelombang yang membuat rasaku tak pernah seimbang,
melemparku dari puncak kebahagiaan ke jurang terdalam tanpa aba-aba.
Padahal, Di sisiku kini telah ada seorang lelaki
yang mencintaiku tanpa syarat, memeluk setiap retakku,
bersama hadirnya buah hati yang menjadi mungilnya pelengkap hidup.
Mereka adalah berkah, Anugerah yang teramat besar.
Namun mengapa rasa hampa ini tetap menagih hadirmu?
Mengapa acceptance—penerimaan atas takdir ini—terasa begitu sulit dipeluk?
Di tengah kasih sayang yang mengelilingiku,
aku tetaplah anak kecil yang kebingungan dan kehilangan penuntunnya.
Aku butuh hadirmu di sini,
bukan untuk menggantikan siapa pun,
tapi untuk memegang tanganku dan berbisik:
“Kamu sanggup, Nak. Semua akan baik-baik saja.”
Baba, ajari aku dari alam sana...
Bagaimana caranya meneruskan hidup yang tak seimbang ini?
Bagaimana cara merawat kebahagiaan yang ada di depanku,
tanpa harus terus tenggelam dalam bayang-bayang kerinduan padamu?