Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Ada perasaan yang datang tanpa pernah kita rencanakan. Semuanya terasa begitu sederhana pada awalnya, sampai akhirnya kita sadar bahwa perasaan itu tumbuh di waktu dan keadaan yang salah.
Kita saling menemukan, saling menguatkan, dan saling memberi rasa tenang.
Namun semakin dekat, semakin jelas pula bahwa ada batas yang tidak bisa kita langkahi.
Bersamamu aku merasa bahagia, tapi di saat yang sama aku tahu kebahagiaan itu tidak pernah benar-benar bisa kita miliki.
Yang paling melelahkan bukan karena rasa ini tidak terbalas, melainkan karena kita sama-sama merasakannya, tetapi memilih menyimpannya.
Aku tidak bisa memanggilmu sebagai milikku, sementara hatiku selalu ingin kembali kepadamu.
Kita belajar mencintai tanpa banyak kata, tanpa bisa menggenggam, tanpa berani berharap terlalu jauh.
Ada banyak hal yang ingin diungkapkan, tetapi semuanya hanya berakhir menjadi percakapan dengan diri sendiri.
Kadang aku membayangkan, mungkin di kehidupan lain kita dipertemukan dalam keadaan yang berbeda.
Tidak ada yang perlu disembunyikan, tidak ada rasa bersalah setiap kali saling menatap, dan tidak ada alasan untuk saling melepaskan.
Bukan karena aku tidak ingin mengikhlaskanmu, tetapi karena ada bagian dari diriku yang terasa ikut tinggal bersamamu.
Melepaskanmu seperti belajar hidup dengan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar bisa terisi lagi.
Pada akhirnya, kita hanya menjadi kisah yang akan terus hidup dalam diam.
Tidak pernah benar-benar dimiliki, tetapi juga tidak pernah benar-benar hilang.
Aku akan tetap menyimpanmu di tempat paling sunyi dalam hati, tempat yang tidak perlu diketahui siapa pun.
Mungkin memang begitulah cara beberapa cinta bertahan.
Bukan dengan memiliki, melainkan dengan menerima bahwa ia pernah hadir, lalu tetap hidup sebagai kenangan yang akan selalu menemukan jalan pulang, meski tak pernah bisa benar-benar kembali.