Menu
Home Login
🌍 Public Published August 4, 2026 at 04:09 · 0 comments · 5 views

sialan, aku kehilangan

Saat bapakku meninggal, justru aku yang terlihat paling tenang. Aku tidak meraung ketika beliau dimakamkan. Aku tidak menangis sejadi-jadinya seperti yang dibayangkan banyak orang. Aku hanya berdiri, mengikuti semua prosesnya, lalu pulang dengan wajah yang tampak baik-baik saja. Bahkan sampai semuanya selesai, rasanya aku seperti orang yang kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan. Aku hanya diam, bingung, dan seolah belum memahami apa yang sebenarnya baru saja terjadi.

Belakangan aku baru mengerti, mungkin bukan karena aku tidak sedih. Mungkin otakku hanya belum siap menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini selalu ada, tiba-tiba benar-benar telah tiada. Duka itu tidak datang saat pemakaman. Ia datang jauh setelah semua orang kembali menjalani hidupnya masing-masing, ketika rumah mulai terasa berbeda, ketika kursi yang biasa beliau duduki tetap ada, tetapi orangnya sudah tidak pernah kembali.

Sampai hari ini masih ada pagi-pagi tertentu ketika aku baru bangun tidur, lalu tanpa sadar berharap bisa melihat beliau duduk di tempat biasanya. Rasanya begitu spontan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun beberapa detik kemudian, kenyataan itu kembali menghampiri. Aku teringat bahwa bapakku sudah tidak ada. Dan setiap kali kesadaran itu datang, rasanya seperti kehilangan beliau untuk kedua kalinya. Luka yang sama, dengan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar berubah.

Orang sering berkata bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Mungkin benar, tetapi menurutku waktu tidak menghapus kehilangan. Ia hanya mengajari kita bagaimana hidup berdampingan dengannya. Aku tetap bisa tertawa, tetap menjalani hari, tetapi ada bagian di dalam diriku yang akan selalu merindukan sosok yang dulu kupanggil "Pak". Rindu itu tidak lagi seramai dulu, tetapi juga tidak pernah benar-benar pergi.

Kini aku sadar, ternyata duka tidak selalu datang dengan air mata. Kadang ia hadir dalam bentuk kebiasaan kecil yang tidak lagi bisa diulang, dalam harapan sederhana yang mustahil terjadi, atau dalam keinginan untuk melihat seseorang duduk di kursinya sekali saja. Dan mungkin, luka karena kehilangan orang tua memang bukan luka yang benar-benar sembuh. Ia hanya menjadi bagian dari diri kita, mengingatkan bahwa pernah ada seseorang yang mencintai kita begitu tulus, lalu pulang lebih dulu.

Collaborators Chat

Belum ada obrolan. Mulai menyapa!