Suara sepi dibalik pintu
βAku tenggelam dalam riak yang tak terlihat,
Dada sesak, riuh oleh badai yang menjerat.
Namun bagi mereka, ini hanyalah drama rekaan,
Rasa sakit yang dianggap sekadar rekaan.
βMereka goreskan kata, melukai tanpa rasa,
Lalu tersenyum, menganggapnya hal biasa.
"Kamu kurang doa," ucap mereka tanpa beban,
Menjadikan Tuhan benteng dari sebuah penolakan.
β"Hatimu kosong, kurang diisi dzikir," kata mereka tegas,
Seolah setiap rintihanku hanyalah bisikan malas.
Mereka menunjuk psikiater sebagai buang waktu,
Dan pil-pil penenang dianggap penawar keliru.
βKatanya, tak ada guna berkonsultasi pada manusia,
Sebab baginya, obat dan terapi hanya buang harta dan sia-sia.
Mereka tak paham, jiwa yang remuk butuh ditopang,
Bukan sekadar dihakimi saat langkah terasa timpang.
βSeolah sujud ini tak pernah cukup dalam,
Seolah jiwa ini sengaja memilih kelam.
Mereka tak melihat luka yang terus menganga,
Sebab bagi mereka, yang tak berdarah tak ada artinya.
βAku lelah berlari di atas beling kalimat mereka,
Di mana rumah tak lagi menjadi tempat berteduh dan bertaut asa.
Hanya bisa memeluk diri dalam pekatnya malam,
Menanggung sakit yang mereka anggap angin lalu yang padam