Menu
Home Login
🌍 Public Created August 23, 2026 at 08:01 · 0 comments · 14 views

tanah yang merasa langit

Manusia memang aneh. Paling cepat menemukan kesalahan orang lain, paling lantang menghakimi, tetapi sering kali paling lambat ketika diminta menoleh ke dalam diri sendiri. Kita begitu hafal dosa, kekurangan, dan kegagalan orang lain, sampai lupa bahwa di dalam diri kita sendiri ada begitu banyak hal yang juga belum selesai.

Kita bisa dengan mudah berkata, β€œSeharusnya dia begini,” atau β€œKalau aku jadi dia, aku tidak akan melakukan itu.” Seolah-olah kita pernah menjalani seluruh hidupnya, mengetahui seluruh lukanya, dan memahami semua alasan di balik pilihannya. Padahal sering kali kita hanya melihat satu potongan kecil dari cerita yang bahkan tidak pernah kita baca sampai selesai.

Begitulah manusia. Berasal dari tanah, tetapi kadang berjalan dengan kepala setinggi langit. Sedikit keberhasilan membuat kita lupa dari mana kita berasal, sedikit kelebihan membuat kita merasa lebih tinggi, dan sedikit kesalahan orang lain cukup untuk membuat kita merasa paling benar. Kita lupa bahwa pada akhirnya, setinggi apa pun seseorang merasa dirinya, tempat kembali kita tetap sama: tanah.

Mungkin karena itu, sebelum sibuk menghakimi seseorang, kita perlu belajar berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: β€œKalau seluruh hidupku juga dibuka di hadapan orang lain, apakah aku masih merasa pantas menjadi hakim?” Sebab bisa jadi, kita tidak sedang berdiri lebih tinggi dari orang lain. Kita hanya sedang beruntung karena kekurangan kita belum terlihat.

Collaborators Chat

Belum ada obrolan. Mulai menyapa!