tentang Agustus
Membaca tulisan tentang bulan ini rasanya seperti sedang membaca sesuatu yang diam-diam sedang menunjuk ke arahku. Bagian "kamu butuh dipuja supaya merasa nyata" lumayan menohok. Bukan karena aku merasa selalu ingin menjadi pusat perhatian, tapi mungkin ada bagian dalam diriku yang memang senang ketika keberadaannya dianggap, didengar, dan dihargai. Kadang perhatian memang terasa seperti bentuk kasih sayang paling sederhana, sampai kita lupa bahwa tidak semua yang memperhatikan benar-benar mencintai.
Mungkin selama ini aku juga terlalu mudah menyamakan "dilihat" dengan "diinginkan". Ketika banyak orang memberi perhatian, rasanya seperti sedang berada di tempat yang benar. Tapi ketika perhatian itu hilang, tiba-tiba muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: "Kalau tidak ada yang melihatku, apakah aku masih berarti?" Dan mungkin di situlah letak kekeliruannya. Nilai diri tidak seharusnya ikut naik turun hanya karena jumlah mata yang sedang memandang.
Tapi bagian yang paling kusukai justru sisi terangnya. Bahwa mungkin daya tarik yang selama ini membuat seseorang ingin dilihat banyak orang, sebenarnya juga bisa menjadi sesuatu yang indah ketika bertemu orang yang tepat. Karena pada akhirnya, kita tidak membutuhkan satu ruangan penuh orang yang bertepuk tangan. Kadang cukup satu orang yang tetap memilih duduk di samping kita ketika kita sedang diam, tidak sedang lucu, tidak sedang menarik, tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa.
Ada sesuatu yang menenangkan dari gagasan bahwa dicintai bukan karena kita sedang tampil sebaik mungkin, melainkan karena seseorang tetap menyukai versi kita yang paling sederhana. Versi yang pulang dalam keadaan lelah, lebih banyak diam, kadang menyebalkan, kadang banyak omong, dan sesekali cuma ingin duduk tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Mungkin itu yang sedang ingin diajarkan bulan ini: berhenti mengejar terlalu banyak tatapan, dan mulai belajar menghargai satu tatapan yang benar-benar ingin tinggal. Karena ternyata, dipuja banyak orang memang menyenangkan, tapi diinginkan oleh satu orang yang mengenal kita apa adanya... rasanya jauh lebih menenangkan.
Dan kalau nanti sudah menemukan orang itu, semoga aku nggak malah sibuk mencari penonton lagi. Masa sudah punya satu penonton VIP, masih keliling cari tribun tambahan. π€£