the deepest wounds
The deepest wounds often birth the softest light; for it is only through shattered glass that a kaleidoscope is made.
Luka yang paling dalam sering kali justru melahirkan cahaya yang paling lembut. Sebab tidak semua yang pecah harus berakhir menjadi sesuatu yang sia-sia. Ada yang hancur, lalu perlahan menemukan bentuk baru. Ada yang pernah kehilangan arah, kemudian justru belajar menjadi penunjuk jalan bagi dirinya sendiri.
Mungkin kita sering bertanya, kenapa harus melalui semua rasa sakit itu? Kenapa harus kehilangan, kecewa, dikhianati, atau berkali-kali jatuh hanya untuk sampai pada versi diri yang sekarang? Padahal mungkin, ada bagian dari diri kita yang memang baru bisa tumbuh setelah melewati sesuatu yang tidak pernah kita inginkan.
Seperti kaca yang pecah. Potongan-potongannya mungkin tidak lagi bisa disatukan menjadi bentuk semula. Tapi ketika cahaya melewatinya, pecahan itu justru mampu menciptakan warna dan pola yang sebelumnya tidak pernah ada. Begitu pula manusia. Kita mungkin tidak kembali menjadi diri kita yang dulu, tetapi bukan berarti kita menjadi lebih buruk. Bisa jadi kita hanya sedang berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Jadi kalau hari ini kamu masih membawa luka, tidak apa-apa. Tidak perlu buru-buru terlihat baik-baik saja. Biarkan waktu mengajarkanmu bagaimana berdamai dengannya. Suatu hari nanti, mungkin kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ternyata bagian-bagian yang pernah membuatmu hancur itu juga yang membentuk kelembutanmu.
Dan mungkin itulah salah satu keajaiban manusia: kita bisa pecah berkali-kali, tetapi tetap menemukan cara untuk membiarkan cahaya masuk.
Kalau hidup sudah terlanjur memecahkan kita seperti kaca, setidaknya jangan lupa menyusunnya dengan cantik. Masa sudah hancur masih mau berantakan. π